Selasa, Mei 10, 2011

ASUHAN KEPERAWATAN GASTROENTERITIS PADA ANAK

BAB  II
PEMBAHASAN
A. Pengertian 
Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dan atau muntah akut. Istilah ini menjadi acuan bahwa terjadi proses inflamasi dalam lambung dan usus.
Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah. (Sowden,et all.1996).
Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya. (FKUI,1965).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam, virus, dan parasit yang pathogen. (Whaley & Wong’s,1995).
Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi, alergi, atau keracunan zat makanan. ( Marlenan Mayers,1995 ).
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi yang meningkat. (Arif Mansjoer, 1999 : 501).
Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam atau hari. (WHO, 1980).
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200ml/24jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali/hari. Buang air besar encer tersebut dapat disertai lendir dan darah.
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari namun tidak terus menerus dan dapat disertai penyakit lain. Diare persisten merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari dan berlangsung terus menerus.
Dari pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.
B. Insiden Gastroenteritis Pada Anak
Diare merupakan keluhan yang sering ditemukan pada anak-anak. Diperkirakan pada anak setiap tahunnya mengalami diare akut atau gastroenteritis akut sebanyak 99.000.000 kasus. Di Amerika Serikat, diperkirakan 8.000.000 pasien berobat ke dokter dan lebih dari 250.000 pasien dirawat di rumah sakit tiap tahun (1,5% merupakan pasien dewasa) yang disebabkan karena diare atau gastroenteritis.
Kematian yang terjadi, kebanyakan berhubungan dengan kejadian diare pada anak-anak atau usia lanjut, di mana kesehatan pada usia pasien tersebut rentan terhadap dehidrasi sedang sampai berat. Frekuensi kejadian diare pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak 2-3 kali dibandingkan negara maju.
Sampai saat ini penyakit diare atau juga sering disebut gastroenteritis, masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan puskesmas atau balai pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok 3 penyebab utama bagi masyarakat yang berkunjung ke puskesmas.
Data Departemen kesehatan RI, menyebutkan bahwa angka kematian diare diindonesia saat ini adalah 230-330 per 1000 penduduk untuk semua golongan umur dan 1,6 – 2,2 episode diare setiap tahunnya untuk golongan umur balita. Angka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. Di laboratorium kesehatan anak RSUD Dr. soetomo pada tahun 1996 didapatkan 871 penderita diare yang dirawat dengan dehidrasi ringan 5%, dehidrasi sedang 7,1%, dan dehidrasi berat 23 %.tahun 2000 terdapat 1160 penderita diare yang dirawat dengan 227 (19,56 %) penderita yang meninggal karena dehidrasi. Sebagian dari penderita (1-2%) akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60% diantaranya dapat meninggal. Hal inilah yang menyebabkan sejumlah 350.000 – 500.000 anak dibawah lima tahun meninggal setiap tahunnya.
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Indonesia, pada 2001 penyakit diare menempati urutan kedua penyakit mematikan yang berasal dari penyakit infeksi. Jumlah penderita diare di Indonesia pada tahun itu mencapai 4% dan angka kematiannya mencapai 3,8%. Pada bayi, diare menempati urutan tertinggi sebagai penyebab kematian dengan angka mencapai 9,4% dari seluruh kematian bayi.
Keputusan Menkes RI No.1216/Menkes/SK/XI/2001 tentang pedoman pemberantasan penyakit diare dinyatakan bahwa penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia, baik ditinjau dari angka kesakitan dan angka kematian serta kejadian luar biasa (KLB) yang ditimbulkan. Penyebab utama kematian pada penyakit diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolitnya melalui tinjanya. Di negara berkembang prevalensi yang tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar, kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh.
C. Etiologi
Penyebab dari diare akut antara lain :
1) Faktor Infeksi 
Infeksi Virus 
Retavirus , Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahulu atau disertai dengan muntah. Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin. Dapat ditemukan demam atau muntah. Di dapatkan penurunan HCC.
Enterovirus, Biasanya timbul pada musim panas.
Adenovirus, Timbul sepanjang tahun. Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan/pernafasan.
Norwalk, Epidemik dapat sembuh sendiri (dalam 24-48 jam).
Bakteri 
Stigella, Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun dapat dihubungkan dengan kejang demam. Muntah yang tidak menonjol terdapatnya sel polos dalam feses sel batang dalam darah
Salmonella, Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun. Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid. Mungkin ada peningkatan temperature Muntah tidak menonjol Sel polos dalam feses Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari. Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.
Escherichia coli Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang menghasilkan entenoksin. Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit.
Campylobacter Sifatnya invasis (feses yang berdarah dan bercampur mukus) pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain. Kram abdomen yang hebat. Muntah/dehidrasi jarang terjadi
Yersinia Enterecolitica Feses mukosa Sering didapatkan sel polos pada feses. Mungkin ada nyeri abdomen yang berat Diare selama 1-2 minggu. Sering menyerupai apendicitis.
Kolera, merupakan diare jenis hipersekresi. Kuman tersebut mengeluarkan endotoksin sehingga menyebabkan pengeluaran cairan yang berlebihan di usus, sehingga orang yang bersangkutan kehilangan banyak elektrolit. Timbulnya mendadak, usia terkena lebih dari 2 tahun, terkadang disertai muntah, dan jarang disertai panas badan. Pada jenis ini, penderita yang terkena cepat mengalami dehidrasi. Feces/tinja yang timbul baunya amis dan seperti cucian beras.
Parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans). 
Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. 
2) Faktor Non Infeksiosus 
Malabsorbsi, 
Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan sukrosa), non sakarida (intoleransi glukosa, fruktusa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.
Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin.
Faktor makanan, Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, dow’n milk protein senditive enteropathy/CMPSE). Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor. Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar. Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar.
Faktor Psikologis, Rasa takut,cemas.

D. Manifestasi Klinis
a) Diare.
b) Muntah.
c) Demam.
d) Nyeri Abdomen
e) Membran mukosa mulut dan bibir kering
f) Fontanel Cekung
g) Kehilangan berat badan
h) Tidak nafsu makan
i) Lemah
E. Komplikasi 
a) Dehidrasi
b) Renjatan hipovolemik
c) Kejang
d) Bakterimia
e) Mal nutrisi
f) Hipoglikemia
g) Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
Tanda dan gejala pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan). 
Tanda-tandanya: 
Berak cair 1-2 kali sehari 
Muntah tidak ada 
Haus tidak ada 
Masih mau makan 
Masih mau bermain 
Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang. 
Tanda-tandanya: 
Berak cair 4-9 kali sehari 
Kadang muntah 1-2 kali sehari 
Kadang panas 
Haus 
Tidak mau makan 
Badan lesu lemas 
Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat. 
Tanda-tandanya: 
Berak cair terus-menerus 
Muntah terus-menerus 
Haus sekali 
Mata cekung 
Bibir kering dan biru 
Tangan dan kaki dingin 
Sangat lemah 
Tidak mau makan 
Tidak mau bermain 
Tidak kencing 6 jam atau lebih 
Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi. 
Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Dehidrasi ringan
Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.
b. Dehidrasi Sedang
Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.

c. Dehidrasi Berat
Kehilangan cairan 8 – 10 % dari berat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang 
ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.
Tingkat dehidrasi
Parameter
Ringan
Sedang
Berat
Sensori
Baik
Gelisah
Apatis/coma
Sirkulasi
120
120 – 140
> 140
Respiratori
Biasa
Agak cepat
Kusmaull
Rasa haus
+
++
+
Oligori
Biasa
Sedikit
-
Turgor
Agak kurang
Kurang
Sangat kurang
Tonus
Biasa
Agak ¯
Menurun
Mata
Agak cekung
Cekung
Cekung sekali
UUB
Agak cekung
Cekung
Cekung sekali
Mulut
Normal
Agak kering
Kering + sianosis


Keterangan : 
    < 1 detik : turgor agak kurang 
    1-2 detik : turgor kurang
    > 2 detik : turgor sangat kurang 
F. Pencegahan
Pencegahan adalah cara terbaik untuk menghindari gastroenteritis karena virus. Tidak ada vaksin untuk gastroenteritis karena virus kecuali vaksin rotavirus. Atau Anda dapat menghindari infeksi dengan
1. Mencuci tangan dengan seksama selama 20 detik setelah menggunakan kamar mandi atau mengganti popok.
2. Mencuci tangan dengan seksama selama 20 detik sebelum makan.
3. Membersihkan permukaan-permukaan yang terkontaminasi seperti tempat ganti popok bayi dengan desinfektan.
4. Tidak makan makanan atau minum cairan yang mungkin terkontaminasi.

G. Patofisiologi Gastroenteritis 
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.
Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Gastroenteritis, yang terjadi merupakan proses dari Transfor aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus. Sel dalam mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan area permukaan intestinal dan terjadi gangguan absorpsi cairan elektrolit.
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1) Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2) Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3) Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

H. Dampak Hospitalisasi pada Anak.
Separation ansiety
1. Tergantung pada orang tua
2. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
3. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik diri, sedih, kesepian dan apatis
4. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan dengan orang lain dan menyukai lingkungan

I. WOC

J. Penatalaksanaan Gastroenteritis
Prinsip Pengobatan Dan Managemen Perawatan pada Gastroenteritis pada anak diantaranya :
1. Pengobatan tergantung pada derajat dehidrasi. Pada Dehidrasi ringan . ada kemungkinan lebih disukai untuk merawat anak di rumah, asal diberikan perawatan medis yang efesien.
1) Dihentikannya pemberian susu yang diganti dengan campuran glucose elektrolit (dioralite).
2) Cairan harus diberikan setiap 2 jam pada siang hari dan setiap 4 jam selama malam hari, dilanjutkan selama 24 jam.
3) Setelah 24 jam pemberian susu dimulai kembali, jika diberikan jumlah kecil (15 ml susu krim separuh) setiap 4 jam dengan salin antara waktu makan
4) Dengan ditingkatkannya pemberian susu, jumlah campuran glucose elektrolit diturunkan secara berimbang. Sucrose hanya ditambahkan jika feces mulai berbentuk.
Dehidrasi ringan. Pada kasus ini, gambaran klinik ditegakkan secara baik dan bayi mulai dirawat :
1) Dihentikannya pemberian susu
2) Penggantian deficit cairan danelektrolit serta koreksi gangguan asam basa. Ini didasarkan pada penilaian klinis, atau pada rekaman kehi,angan berat badanterakhir.
3) Pergantian dapat dilakukan baik peroral atau intravena dan akan tergantung pada kehilangan air dan elektrolit melalui diare.
4) Perawatan bayi dengan terapi intra vena
Pemeriksaan biokimia dan obsevasi klinis untuk menentukan status elektrolit
5) Dimulainya pemberian cairan peroral secara perlahan – lahan untuk kmenentukan kemampuan menerima cairan
6) Dimulainya pemberian susu secara berangsur-angsur seperti yangdiuraikanuntuk dehidrasi ringan
7) Penimbangan berat badan harian dan pengumpilan urin harian
Dehidrasi parah. Bayi dalam kedaan sakit parah dengan kegagalan sirkulasi :
1) Infuse intravena dengan larutan yang sesuai dan masukan cairan dengan peningkatan yang seksama
2) Infuse plasma untuk menggantikan penurunan volume plasma
Koreksi asidosis merabolik dengan pemberian secara intravena 8,4 % natrium bikarbonat dengan penilaian kembali status asam basa
3) Jika suatu elektrolit dan cairan telah dikoreksi, secara berangsur-angsur susu diberikan kembali seperti yang diuraikan untuk dehidrasi ringan
4) Selama fase akut, bayi dirawat dalam incubator. Diberikan oksigen dan bayi diobservasi secara seksama, karena penurunan kadar kalium serum menimbulkan perubahan aktivitas jantung, dan peningkatan kadar kalium secara cepat membawa resiko henti jantung.
2. Perawatan rutin.
1) Pemberian obat-obatan, terutama antibiotika untuk mengatasu kuman infeksi . jika muntah parah, obat-obatan yang sesuai, seperti kloramfenikol atau streptomisin, dapat diberikan secara parenteral.
2) Isolasi bayi dan pengertian akan proses infeksi silang serta pencegahannya.
3) Perawatan bokong anak. Feces yang encer akan menyebabkan kemerahan dan ekskoriasi kulit. Bayi tidak boleh ditinggal berbaring dengan popok yang basah dan kotor. Area popok dibasuh secara lebih dan diberikan krim pelindung. Meninggalkan bokong dalam kedaan terpapar merupakan cara yang terbaik untuk mendorong terjadinya penyembuhan.
4) Inspeksi dan perawatan mulut bayi.
5) Dukungan bagi orang tua. Jika terdapat bukti tidak adanya pengertian dalam hal perawatan anak,ibu harus didorong untuk tinggal bersama anak. Perawatan dapat diawasi dan diberikan bantuan. Walaupun demikian, harus diingat bahwa banyak bayi yangmenderita gastroenteritis kendatipun perawatan bayi yang bhaik, dan orang tua tidak boleh disalahkan karena keadaan ini.
6) Persiapan pulang ke rumah. Segera setelah petunjuk pemberian makanan mencapai tingkat sesuai umur dan kebutuhan anak, dan jika terjadi pertambahan berat badan anak yang memuaskan dan tidak terdapat muntah atau feces yang encer, maka anak dizinkan pulang. Orang tua diminta untuk datang ke unit rawat jalan untuk mengubungi dokter umum untuk menilai kemajuan bayi.
Sedangkan untuk penatalaksanaan gastroenteritis pada anak diantaranya terdiri dari :
1. Simtomatis.
a. Rehidrasi.
Bila keadaan pasien tidak dehidrasi, asupan cairan yang adekuat dapat dicapai dengan minuman ringan, sari buah, dan sup. Bila pasien kehilangan cairan yang banyak dan dehidrasi penatalaksanaan yang agresif seperti cairan intravena atau rehidrasi oral dengan cairan isotonik mengandung elektrolit dan gula atau starch harus diberikan. 
1) Cairan per oral.
Cairan dehidrasi oral (Oral Rehidration Salt)
Formula lengkap (oralit) mengandung NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa.
anak di atas 6 bulan dengan dehidrasi ringan/sedang/tanpa dehidrasi: kadar natriumnya 90 mEg/l (untuk pencegahan dehidrasi) 
anak di bawah 6 bulan dengan dehidrasi ringan/sedang/tanpa dehidrasi  : kadar natriumnya 50-60 mEg/l.
Formula sederhana (tidak lengkap) mengandung NaCl dan Sukrosa atau Karbohidrat lain.
Misalnya : larutan gula garam/LGG (1/4 sdt + 1 sdm + 200 ml air), larutan air tajin, garam, larutan tepung beras garam dsb. 
Ditujukan untuk pengobatan pertama di rumah pada semua anak dengan diare akut baik sebelum ada dehidrasi maupun setelah ada dehidrasi ringan.  
2) Cairan parentral.
Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi,yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya. Pada rehidrasi ini ada 4 hal yang perlu diperhatikan :
a) Jenis cairan.
Dengan Na (1 bagian larutan darrow + 1 bagian glukosa 5%) 
RL 9 (1 bagian RL + 1 bagian glukosa 5%)
RL (ringen laktat)
3 (1 bagian NaCl 0,9% + 1 bagian glukosa 5% + 1 bagian natrium laktat 1/6 mol/l)
DG 1 : 2 (1 bagian larutan Darrow + 2 bagian glukosa 5%)
RLG 1 : 3 ( 1 bagian RL + 3 bagian glukosa 5%)
Cairan 4 :1 (4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaHCO3 1,5% atau 4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaCl 0,9%)                  
b) Jadwal (kecepatan) cairan.
Dehidrasi ringan.
1 jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB / hari
Kemudian 125 ml / Kg BB / oral
Dehidrasi sedang.
1 jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral
Kemudian 125 ml / kg BB / hari.
Dehidrasi berat.
Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg
1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.
7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
 Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.
1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).
7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.
Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.
1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).
16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.
c) Jalan masuk atau cara pemberian cairan.
Parenal untuk dehidrasi ringan/sedang/tanpa dehidrasi bila anak mau minum dan kesadaran baik.
Intragastrik untuk dehidrasi ringan/sedang/tanpa dehidrasi bila anak tidak  mau minum atau kesadaran menurun.
Intravena untuk dehidrasi berat.
d) Jumlah cairan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus: Mengukur BJ Plasma. 
Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus: 
Metode Pierce 
Berdasarkan keadaan klinis, yakni: 
diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB 
diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB 
diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB 
Metode Daldiyono 
Berdasarkan skoring keadaan klinis sebagai berikut: 
Rasa haus/muntah = 1 
BP sistolik 60-90 mmHg = 1 
BP sistolik <60 mmHg = 2 
Frekuensi nadi >120 x/mnt = 1 
Kesadaran apatis = 1 
Kesadaran somnolen, sopor atau koma = 2 
Frekuensi napas >30 x/mnt = 1 
Facies cholerica = 2 
Vox cholerica = 2 
Turgor kulit menurun = 1 
Washer women’s hand = 1 
Ekstremitas dingin = 1 
Sianosis = 2 
Usia 50-60 tahun = 1 
Usia >60 tahun = 2 

Jumlah cairan yang hilang menurut derajad dehidrasi pada anak di bawah 

2 tahun.
Derajad dehidrasi
PWL
NW
CWL
Jumlah
Ringan
Sedang
Berat
50
75
125
100
100
100
25
25
25
175
200
250

2. Medika mentosa 
a) Paling efektif yaitu derivat opioid misal loperamide, difenoksilat-atropin dan tinktur opium. Loperamide paling disukai karena tidak adiktif dan memiliki efek samping paling kecil.
b) Obat yang mengeraskan tinja, apulgite 4 x 2 tab/hari, smectite 3 x 1 saset diberikan tiap diare/bab encer sampai diare berhenti.
c) Obat anti sekretorik atau anti enkephalinase, hidrasec 3 x 1 tab/hari
d) Vitamin dan mineral
e) Aluminium hidroksida, memiliki efek konstipasi dan mengikat empedu.
f) Fenotiazin dan asam nikotinat, menghambat sekresi anion usus.
g) Antibiotic 

3. Pengobatan dietetic
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg.
     Jenis makanan :
a. Susu (ASI dan susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tak jenuh misalnya LLM, Almiron).
b. Makanan setengah padat (bubur syusu) atau makanan padat (nasi tim) bila anak  tidak mau minum susu karena di rumah sudah biasa diberi makanan padat.
c. Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktose atau susu dengan asam lemak tak jenuh, sesuai dengan kelainan yang ditemukan.
d. Hari 1     :   setelah dehidrasi segera diberikan makanan peroral.
Bila diberi ASI atau susu Formula, diare masih sering, hendaknya diberikan tambahan oralit atau air tawar selang-seling dengan ASI, misalnya : 2x ASI/susu formula rendah laktosa, 1 x oralit/air tawar atau 1x ASI/susu formula rendah laktosa, 1 x oralit/air tawar.
e. Hari 2-4 :   ASI/susu formula rendah laktosa penuh 
f. Hari 6     : Dipulangkan dengan ASI (susu formula sesuai dengan kelainan yang ditemukan dari pemeriksaan laboratorium)
Bila tidak ada kelainan, dapat diberikan susu biasa seperti SGM, Lactogen, Dancow dsb, dengan menu makan sesuai dengan umur dan BB bayi.
4. Kausal
Pengobatan kausal diberikan pada infeksi maupun non infeksi. Pada diare dengan penyebab infeksi, obat diberikan berdasarkan etiologinya.
a) Aeromonas dan campylobacter, agen antimicrobial: tmp/smz indikasi untuk terapi antimikrobial : dysentery-like illness,diare berkepanjangan.
b) Campylobacter agen antimikrobial:erythromycint atau azithromycin: indikasi terapi antimikrobial : pada awal penyakit.
c) Clostridium difficile agen antimikrobial :metronidazole atau vancomycin indikasi terapi antimikrobial penyakit sedang hingga berat
d) Escherichia coliagen antimikrobial :metronidazole atau vancomycin
indikasi terapi antimikrobial : penyakit sedang hingga berat.
e) Enterotoxigenic agen antimikrobial : tmp/smz† indikasi terapi antimikrobial :penyakit berat atau berkepanjangan
f) Enteropathogenic agen antimikrobial :tmp/smz† indikasi terapi antimikrobial : nursery epidemics, penyakit pengancam jiwa.
g) Enteroinvasive agen antimikrobial :tmp/smz† indikasi terapi antimikrobial : semua pada kasus jika organisme rentan
h) Salmonella agen antimikrobial :cefotaxime atau ceftriaxone atau ampicillin atau chloramphenicol atau tmp/smz† indikasi terapi antimikrobial : pasien bayi

K. Pemeriksaan Diagnostik 
1) Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan tinja.
Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan.
Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.
2) Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.
3) Pemeriksaan darah 
pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.
Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.
4) Doudenal Intubation
     Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GASTROENTERITIS
PADA ANAK
I. Pengkajian 
A. Identitas  
Di dalam identitas hal-hal yang perlu di kaji antara lain nama pasien, alamat pasien, umur pasien biasnya kejadian ini mencakup semua usia (lebih sering terjadi pada usia 6-11 bulan), tanggal masuk ruma sakit penting untuk di kaji untuk melihat perkembangan dari pengobatan, penanggung jawab pasien agar pengobatan dapat di lakukan dengan persetujuan dari pihak pasien dan petugas kesehatan.
B. Riwayat kesehatan 
1. Keluhan utama                  
BAB cair > 4x , gelisah, rewel, anoreksia, dan suhu tubuh meningkat.                
2. Riwayat kesehatan sekarang
Mula-mula pasien cengeng, suhu badan meningkat, nafsu makan menurun, kemudian timbul diare. Tinja cair dengan atau tanpa darah/lendir, warna makin lama berubah menjadi kehijauan. Gejala muntah bisa timbul sebelum atau sesudah diare.
3. Riwayat penyakit dahulu
Anak pernah menderita penyakit campak atau tidak.
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat imunisasi
6. Riwayat kehamilan dan persalinan 
7. Riwayat tumbuh kembang
Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun
8. Riwayat psikologi      
Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah. 
   
C. Pola kebiasaan sehari-hari
1. Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
2. Pola nutrisi : diawali dengan mual,muntah,anoreksia,menyebabkan penurunan berat badan pasien.
3. Pola tidur dan istirahat : akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
4. Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
5. Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.

II. Pengkajian Fisik
1. Keadaan Umum
a. Tingkat Kesadaran
b. TTV
2. Head To Toe
a. Kepala
Bentuk ubun – ubun cekung
Kulit kepala
b. Rambut
Warna rambut hitam, tidak ada bau pada rambut, keadaan rambut tertata rapi.
c. Mata (Penglihatan)
Posisi simetris, bentuk cowong , pupil isokor, tidak terdapat massa dan nyeri tekan, tidak ada penurunan penglihatan.
d. Hidung (Penciuman)
Posisi sektum naso tepat ditengah, tidak terdapat secret, tidak terdapat lesi, dan tidak terdapat hiposmia. Anosmia, parosmia, kakosmia.
e. Telinga (Pendengaran)
Inspeksi
Daun telinga : tidak terdapat lesi, kista epidemoid, dan keloid.
Lubang telinga : tidak terdapat obstruksi akibat adanya benda asing berupa serangga.
Palpasi
Terdapat edema, tidak terdapat nyeri tekan pada otitis media dan mastoidius.
f. Mulut dan gigi
Mukosa bibir kering, pecah-pecah, warna gusi merah muda, tidak terdapat perdarahan gusi, dan gigi bersih.
g. Leher
Posisi trakea simetris, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada nyeri tekan.
h. Thorak
Bentuk : simetris
Pernafasan : takhipneu
Tidak terdapat otot bantu pernafasan
i. Abdomen
Inspeksi
Bentuk : normal simetris
Benjolan : tidak terdapat benjolan
Auskultasi 
Bising usus meningkat, peristaltik usus meningkat
Palpasi
Terdapat nyeri tekan
Tidak terdapat massa / benjolan
Tidak terdapat tanda tanda asites
Tidak terdapat pembesaran hepar
Perkusi
Suara abdomen : Hypertympani.
j. Ekstremitas
Tidak terdapat luka dan spasme otot.
k. Integument
Turgor kulit kurang (1 – 2 detik).
l. Genetalia 
Daerah anus dan sekitarnya lecet.
III. Diagnosa Keperawatan Gastroenteritis
1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.
6. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, perpisahan dengan orang tua, dan prosedur yang menakutkan.

IV. Intervensi Keperawatan Gastroenteritis.
Dx 1 : Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan    dengan output cairan yang berlebihan.
a. Tujuan .
Devisit cairan dan elektrolit teratasi.
b. Kriteria hasil.
Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang.
c. Intervensi
1. Observasi tanda-tanda vital. 
2. Observasi tanda-tanda dehidrasi. 
3. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). 
4. Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. 
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. 
6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.
Dx 2 : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.
a. Tujuan
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
b. Kriteria hasil
Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.
c. Intervensi
1. Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. 
2. Timbang berat badan klien. 
3. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. 
4. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). 
5. Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. 
6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
Dx 3 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.
a. Tujuan
Gangguan integritas kulit teratasi
b. Kriteria hasil
Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada
c. Intervensi
1. Ganti popok anak jika basah. 
2. Bersihkan bokong perlahan dengan sabun non alcohol. 
3. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.
4. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. 
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antipungi sesuai indikasi.
Dx 4 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
a. Tujuan
Nyeri dapat teratasi
b. Kriteria hasil
Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang
c. Intervensi
1. Observasi tanda-tanda vital. 
2. Kaji tingkat rasa nyeri. 
3. Atur posisi yang nyaman bagi klien. 
4. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. 
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi analgesik sesuai indikasi.
Dx 5 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.
a. Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
b. Kriteria hasil
Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
c. Intervensi
1. Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. 
2. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. 
3. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. 
4. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. 
5. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Dx 6 : Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, perpisahan dengan orang tua, dan prosedur yang menakutkan.
a. Tujuan 
Cemas teratasi
b. Kriteri hasil
Ekpesi wajah klien tenang dan tidak cenggeng lagi
c. Intervensi 
1. Kaji tingkat kecemasan klien.
2. Kaji factor pencetus cemas. 
3. Buat jadwal kontak dengan klien. 
4. Kaji hal yang disukai klien. 
5. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. 
6. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. 
7. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.
V. Implementasi Keperawatan pada Gastoenteritis
Pada tahap pelaksanaan ini, fase pelaksanaan terdiri dari berbagai kegiatan yaitu:
1. Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan konsulidasi
2. Keterampilan interpersonal, intelektual, tehnical, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat
3. Keamanan fisik dan psikologi dilindungi
4. Dokumentasi Intervensi, dan respon klien
VI. Evaluasi Keperawatan pada gastroenteritis
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses keperawatan (Diagnosa, Tujuan, Intervensi) harus di evaluasi, dengan melibatkan klien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya dan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dalam perencanaan keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan pengkajian ulang jika tindakan belum berhasil.
Ada tiga alternatif yang dipakai perawat dalam menilai suatu tindakan berhasil atau tidak dan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan rencana yang ditentukan, adapun alternatif tersebut adalah:
1. Tujuan tercapai, jika pasien bisa pulang dan pengobatan di hentikan
2. Tujuan tercapai sebagian,jika pasien masih merasa sakit dan pengobatan di teruskan  
3. Tujuan tidak tercapai , jika pasien tidak ada perubahan dan pengobatn dapat dihentikan atau di lanjutkan melihat kondisi pasien.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).
Manifestasi Klinis
Diare.
Muntah.
Demam.
Nyeri Abdomen
Membran mukosa mulut dan bibir kering
Fontanel Cekung
Kehilangan berat badan
Tidak nafsu makan
Lemah
Etiologi 
Factor inveksius 
Factor non inveksius

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J., (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarata : EGC
Dongoes (2000). Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta : EGC
Price, Anderson Sylvia. (1997) Patofisiologi. Ed. I. Jakarata : EGC.
Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.
Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta; EGC.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar